Tanjakan Maut Gunung Cikuray

Berawal dari kegiatan harian saya mengecek recent updates di BBM, disitu saya liat update status temen yang mau mendaki gunung Cikuray. Gunung Cikuray terletak di Garut, Jawa Barat. Memiliki tinggi sepanjang 2.821mdpl (meter diatas permukaan laut) menjadikannya gunung tertingi ke empat di Jawa Barat. Gunung ini berada diantara perbatasan kecamatan Bayongbong, Cikajang dan Dayeuh Manggung. Perjalanan menuju ke Garut dari Jakarta sekitar 215km atau sekitar 4 jam jika menggunakan mobil.

Jarak jakarta garut

Jarak jakarta garut

Kabupaten Garut, adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Tarogong Kidul. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sumedang di utara, Kabupaten Tasikmalaya di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung di barat

Pemandangan malam kota Garut, photo by: cepdanie

Pemandangan malam kota Garut, photo by: cepdanie

Singkatnya, saya setuju untuk join, lalu sebelum berangkat kami sepakat bertemu di sevel margonda untuk membicarakan perihal keberangkatan.

Di sana saya berkenalan dengan teman-teman baru, rata-rata mereka satu perguruan silat, jadi sebenernya ini acara geng silat mereka. Saya sih boro-boro ikut silat, sama kecoa terbang aja takut. Pertemuan berlangsung singkat, hanya membicarakan barang yang harus dibawa dan transportasi menuju ke sana. Tidak lupa saya izin untuk mengajak seorang teman, biar ada yang nolongin kalo saya jadi sasaran latihan mereka.

Silat, photo by: Vichaya Chatikavanij

Silat, photo by: Vichaya Chatikavanij

Hari keberangkatan sudah disepakati, saya mengajak teman sekampus sekaligus teman kerja sebagai asisten Lab. Teman saya sebenarnya sudah menyetujui keberangkatan, cuman karena masalah uang, dia maunya naik motor, karena saya juga gabisa bayarin transport, jadilah kami naik motor ke garut.

Perjalanan menggunakan motor

Perjalanan menggunakan motor

Perjalanan kurang lebih sekitar 5-6 jam, kami berangkat melalu jalan raya Bogor, lurus terus hingga masuk puncak, lurus terus sampe turun puncak, lalu masuk melewati bandung baru akhirnya kami sampai di Garut. Perjalanan dengan motor sangat memakan tenaga, saya hanya sanggup membawa motor 1/3 dari jarak tempuh.

Melewati daerah puncak pada pagi dini hari merupakan pengalaman tersendiri bagi saya, Disana terlihat pemandangan yang ‘tidak biasanya’. Warung pinggir jalan yang biasa menjual jagung bakar, kopi, bandrek dll berubah menjadi tempat prostitusi terselubung, disana saya melihat beberapa perempuan paruh baya dengan pakaian minim dan bedak tebal. Benar memang isu yang saya dengar, kawasan puncak merupakan kawasan esek-esek. Teman saya sampai berceloteh “mau mampir ga lis?”, Tentu ajakannya saya tolak, bukan karena saya sok alim, namun wanita yang mangkal bukanlah tipe saya, pertanyaan selanjutnya ‘Bagaimana kalau yang mangkal adalah tipe saya?’ tentu jawabannya tetap tidak.

via: pixabay.com

via: pixabay.com

Sesampainya di Garut, kami berhenti di Masjid untuk sholat Subuh. Kondisi tubuh saya yang tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh, dalam kondisi yang cukup memprihantinkan, masuk angin dan sedikit demam. Disana saya hanya sempat tidur selama 1 jam, setelahnya saya langsung melanjutkan perjalanan menuju pos pendakian sekalian mencari sarapan.

Mesjid Agung Garut via sobatadventure.com

Mesjid Agung Garut via sobatadventure.com

Kami sampai di pos pendakian atau biasa disebut pos pemancar sekitar pukul 9, pos pendakian berada di lokasi yang sulit dijangkau. Jalan menanjak yang rusak dan berbatu, ditambah dengan tikungan yang cukup tajam membuat perjalanan cukup menegangkan dan membuat pantat terasa sakit. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, dari bawah sampai pos pendakian bisa memakan waktu sekitar 2 jam. Biasanya para pendaki mencarter angkot, namun para pendaki harus hati-hati karena banyak angkot yang nakal, baru mengantar sampai setengah jalan lalu para supir beralasan kalau angkot tidak kuat menanjak, jadi akhirnya para pendaki yang sudah terlanjur membayar terpaksa harus berjalan kaki sampai pos pendakian. Sesampainya disana, kami memakan sarapan yang sudah kami beli sebelumnya, nasi yang dingin dan lauk seadanya terasa sangat nikmat bila dimakan dalam kondisi perut kosong.

Tower pemancar cikuray, photo by: Muhammad Abdul Aziz

Tower pemancar cikuray, photo by: Muhammad Abdul Aziz

Kurang lebih jam 09.30 kami memulai perjalanan, teman-teman kami yang seharusnya serombongan telah pergi duluan karena kami terlalu lama dijalan. di pos pendakian kami membayar ongkos retribusi sebelum bisa naik. Baru lewat beberapa puluh meter dari pos pendakian, kami menemukan pos lagi yang meminta sumbangan di pinggir jalan. Tidak lama setelah itu, kami menemukan pos pendakian serupa, jadi total kami harus membayar di 3 tempat, namun jika ada pos yang tanpa penjagaan maka kami menolak membayar, budaya pungli atau pungutan liar sepertinya sudah mendarah daging di bumi pertiwi ini, sepengalaman saya, traveling dimanapun di Indonesia, semua ada pungutan liar terutama di daerah pedalaman yang mungkin disebabkan karena SDM disana masih rendah, yang menyebabkan mereka tidak dapat penghidupan yang layak.

Perjalanan awal terasa sangat berat, kondisi badan yang begadang selama perjalanan ditambah medan pendakian yang cukup ekstreme, saya tidak menyarankan gunung Cikuray untuk pendaki pemula, “dengkul diangkat sampe pipi” begitu kira-kira perumpamaan yang pantas untuk menggambarkan sulitnya medan pendakian.

jalur pendakian cikuray via: rumahakiem.files.wordpress

jalur pendakian cikuray via: rumahakiem.files.wordpress

Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya tubuh saya mulai terbiasa dengan medan yang seperti itu, kami lanjut berjalan, ditengah jalan saya menemukan sejenis cacing dengan ukuran yang sangat besar, mungkin kalo kelaparan cacing tersebut bisa menjadi pengganti lauk pauk karena ukurannya yang cukup besar.

Hujan turun ditengah perjalanan, saya yang sudah tidak kuat memutuskan untuk tidur sejenak dipinggir jalan dengan menggunakan terpal sebagai pelindung hujan. Hujan yang terus turun membuat kami terpaksa harus lanjut. Karena musim pendakian, disepanjang jalan sudah terisi penuh dengan pendaki, saya yang sudah tidak kuat jalan, terpaksa meneruskan perjalanan sampai menemukan tempat untuk berkermah.

Sekitar 1 jam kemudian akhirnya saya bertemu pendaki yang sedang beres-beres untuk turun, karena tempat bekasnya kosong, kami memutuskan untuk mendirikan tenda disitu. Proses mendirikan tenda tidak semudah biasanya, hujan membuat tanah menjadi lembek ditambah posisi tanah yang miring dan juga ternyata kami lupa membawa gunting, jadilah kami mendirikan tenda dengan kondisi badan tidak fit, medan yang jelek dan perlengkapan yang kurang. Tali rapia dibutuhkan untuk mengikat flysheet pada tenda, flysheet berguna untuk menghalau air hujan, biasa digunakan pada tenda single-layer tapi sebaiknya digunakan pada setiap tenda. Karena tidak ada gunting, saya terpaksa memotong tali rapia menggunakan gigi, benar-benar pengalaman yang menyenangkan.

cikuray camp, photo by: Marcell Surya

cikuray camp, photo by: Marcell Surya

Setelah tenda berdiri tegak, kamipun beres-beres, tidak lupa sholat zuhur jamak dengan ashar didalam tenda. Setelah itu kami menyiapkan makan siang, namun masalah baru muncul. Kompor yang kami bawa tidak bisa menyalakan api, kami membutuhkan korek, sementara tidak ada satupun diantara kami yang merokok. Berarti fix kami makan makanan dingin, kami menggunakan kunci motor untuk membuka kaleng sarden karena tidak bawa pisau, kaleng terbuka namun kunci kami bengkok, kemungkinan motor kami tidak bisa dipakai untuk pulang. Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk tidur karena lelah.

Ditengah lelapnya tidur, kami dibangunkan oleh tenda sebelah yang ingin meminjam kompor, setelah selesai meminjam kompor, kami diberikan satu korek gas. Menu makan malam kami adalah indomie goreng yang berhasil kami masak dengan bantuan korek gas pemberian tenda sebelah. Setelah makan, kami lanjut tidur.

Malam sekitar jam 10 saya terbangun, saya melihat kondisi atap tenda yang semakin dekat ke bawah, lalu saya tanya teman saya, dia hanya menjawab “emang gitu lis tendanya” terus lanjut tidur lagi, oke lah saya juga tidur lagi. Jam 12 malam saya terbangun lagi dan kondisi makin parah, atap makin dekat dan posisi tenda semakin miring, akhirnya saya bangunkan teman saya untuk mengecek keluar, ternyata frame tenda patah. Tidak hanya itu, tanah yang miring dan basah karena hujan membuat posisi tenda kami makin miring ke arah jurang. Sebagian waktu malam akhirnya kami pergunakan untuk membenarkan sedikit kondisi tenda, lalu kami lanjut tidur sampai pagi.

Paginya hujan masih turun, kami menunggu hujan reda sekitar pukul 10.00, lalu kami jalan untuk summit walaupun sudah terlambat. Jarak dari camp sampai puncak kurang lebih sekitar 1-2jam perjalanan, disana kami bertemu rombongan kami yang terpisah, setelah menyapa, kami langsung melanjutkan perjalanan. Sampai puncak tidak ada pemandangan bagus yang bisa dilihat karena sudah siang dan tertutup kabut tebal. Disana kami hanya ngopi bareng pendaki lain dan sesekali foto-foto lalu turun kembali ke camp.

Sunrise Cikuray photo by: Iswanto Arif

Sunrise Cikuray photo by: Iswanto Arif

Sampai camp sekitar jam 2 siang, lalu kami makan lanjut beres-beres n packing siap pulang, ketika makan kami berpapasan dengan teman kami yang berangkat duluan, lalu akhirnya mereka pamit untuk pulang duluan. Sekitar jam 3 kami turun, saya yang pakai sepatu lebih cepat dibanding teman saya yang menggunakan sendal, teman saya akhirnya tertinggal jauh di belakang. Di tengah perjalanan, saya bertemu dengan seorang wanita sebut saja TR, kami mengobrol banyak sepanjang perjalanan, dia adalah salah satu mahasiswi sekaligus anggota Mapala di perguruan tinggi di kota garut. Sesampainya di bawah, saya menunggu teman saya datang sambil mengobrol santai. Singkatnya, dia kaget ketika mengetahui kami mengendarai motor dari Depok ke Garut. Lalu dia menawarkan kami untuk menginap di rumahnya untuk semalam, karena hari sudah mulai gelap. Namun teman saya tidak setuju dan akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan malam itu juga ke Depok, tapi sebelum berangkat, kami sempat bertukar nomor telfon.

Bertukar nomor telephone

Bertukar nomor telephone

Perjalanan pulang lebih berat dari pas berangkat, kalau pas berangkat kami masih dalam kondisi bugar, sedangkan ketika pulang kami dalam kondisi lelah. Sebelum menuju Depok, kami makan dulu di pinggir jalan untuk memulihkan stamina. Setelah makan, kami lanjut jalan ke Depok melalui jalur yang sama ketika berangkat. Di tengah jalan jalan, kami yang terlampau lelah memutuskan untuk tidur di emperan alfamart sebuah pom bensin di pinggir jalan. Dengan kondisi lutut kebawah ke jalan dan badan di atas trotoar toko, kami tidur dengan lelap sampai subuh. Sehabis subuh kami melanjutkan perjalanan menuju Depok. Sesampainya disana, kondisi badan saya panas dingin, jadi saya langsung tidur tanpa mencuci peralatan terlebih dulu, namun hebatnya, teman saya langsung berangkat kuliah karena tidak ingin ketinggalan kelas, kalau tidak salah waktu itu hari senin, benar-benar semangat belajar yang patut ditiru.

Leave a Reply