Kerajaan Banjar

kerajaan banjar - bendera

Kerajaan Banjar atau Kesultanan Banjarmasin adalah kerajaan bercorak islam yang berdiri pada Tahun 1520. Kerajaan ini dihapuskan secara sepihak oleh Belanda pada tanggal 11 Juni 1860.

Namun masyarakat Banjar tetap mengakui adanya pemerintahan darurat yang baru berakhir pada 24 Januari 1905. Tetapi sejak tanggal 24 Juli 2010, Kesultanan Banjar bangkit kembali ditandai dengan dilantiknya Sultan Khairul Saleh.
Kerajaan Banjar terletak di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.

Kesultanan ini pada awalnya beribukota di Banjarmasin lalu dipindahkan ke berbagai tempat dan terakhir pindah ke Martapura. Ketika ibu kota kerajaan Banjar berada di Martapura, Kerajaan ini disebut juga Kerajaan Kayu Tangi.

kerajaan banjar - wilayah kekuasaan
via: wikipedia.org

Nama kerajaan ini berubah-ubah ketika ibu kotanya pindah. Waktu ibu kota kerajaan Banjar berlokasi di Banjarmasin, kesultanan ini dikenal dengan nama Kesultanan Banjarmasin.

Kesultanan Banjar merupakan penerus dari Kerajaan Daha yang merupakan kerajaan Hindu. Ibu kota kerajaan Daha terletak di kota Negara, yang sekarang merupakan ibu kota dari kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan.

Sejarah Kerajaan Banjar

kerajaan banjar - kraton
Kraton Banjar, via: wikipedia

Berdasarkan mitologi dari suku Maanyan (suku tertua di Kalimantan Selatan), kerajaan pertama di Kalimantan bagian selatan merupakan Kerajaan Nan Sarunai yang diperkirakan daerah kekuasaannya terhampar luas mulai dari daerah Tabalong hingga ke daerah Pasir.

Keberadaan mitologi Maanyan yang menceritakan mengenai masa-masa kejayaan dari Kerajaan Nan Sarunai, sebuah kerajaan kuno yang dulunya menyatukan etnis Maanyan di daerah ini dan telah mengadakan hubungan dengan pulau Madagaskar.

Kerajaan ini mendapat serbuan dari Majapahit Sehingga sebagian rakyatnya menyingkir ke pedalaman (wilayah suku Lawangan). Salah satu peninggalan arkeologis yang berasal dari zaman ini adalah Candi Agung yang terletak di kota Amuntai.

Ketika tahun 1996, dilakukan pengujian terhadap sampel arang dari Candi Agung. Hasil pengujian tersebut menghasilkan angka tahun sekitar 242-226 SM.

Kemunculan Kerajaan Banjar berhubungan erat dengan melemahnya pengaruh dari Negara Daha sebagai kerajaan yang sedang berkuasa saat itu.

Maharaja Sukarama, Raja dari Negara Daha pernah berwasiat agar penggantinya kelak adalah cucunya yang bernama Raden Samudera, anak dari putrinya Puteri Galuh Intan Sari. Ayah dari Raden Samudera adalah Raden Manteri Jaya, putra dari Raden Begawan, yang merupakan saudara dari Maharaja Sukarama.

kerajaan banjar - bangsawan
bangsawan dari Banjar via: wikipedia.org

Wasiat tersebut mengakibatkan Raden Samudera terancam keselamatannya lantaran para putra Maharaja Sukarama juga berambisi unutk menjadi raja yaitu Pangeran Bagalung, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung.

Dibantu oleh Arya Taranggana, Pangeran Samudra melarikan diri menggunakan sampan ke muara sungai Barito. Setelah Maharaja Sukarama wafat, Pangeran Mangkubumi menjadi Raja Negara Daha, kemudian digantikan Pangeran Tumenggung yang juga merupakan putra Sukarama.

Raden Samudera sebagai pihak yang kalah lalu melarikan diri dan bersembunyi di daerah muara sungai barito. Dia dilindungi oleh sekelompok orang melayu yang berdiam di wilayah itu. Kampung orang melayu itu disebut dengan nama kampung oloh masih yang berarti kampung orang melayu pimpinan Pati Masih. Lambat laun kampung ini mulai berkembang menjadi kota banjarmasih karena ramainya perdagangan di tempat ini dan banyaknya pedagang yang menetap.

kerajaan banjar - gadis
gadis dari Banjar via: wikipedia.org

Dalam pelarian politiknya, raden Samudera melihat potensi dari Banjarmasih dengan sumber daya manusianya dapat dijadikan sebagai kekuatan potensial untuk melawan balik kekuatan pusat, yaitu Negara Daha.

Kemampuan yang dimiliki Banjarmasih untuk melakukan perlawanan terhadap Negara Daha akhirnya mendapat pengakuan formal setelah komunitas melayu tersebut mengangkat Raden Samudera menjadi kepala Negara.

Pengangkatan ini akhirnya menjadi titik balik perjuangan bagi Raden Samudera. Terbentuknya kekuatan politik baru di banjarmasih, yang dapat menandingi Negara Daha ini dijadikan sebagai senjata oleh Raden Samudra untuk mendapatkan haknya kembali sebagai Raja Negara Daha.

Sedangkan orang melayu yang menolongnya menjadikan ini sebagai media agar mereka tidak perlu lagi membayar pajak pada Negara Daha.

Setelah berhasil menjadi Raja di Banjarmasih, Raden Samudera dianjurkan oleh Patih Masih untuk meminta bantuan tempur kepada Kerajaan Demak.

Permintaan bantuan dari Raden Samudera diterima oleh Sultan Demak, Namun dengan syarat Raden Samudera beserta para pengikutnya harus masuk agama Islam. Syarat tersebut lalu disanggupi oleh Raden Samudera dan Sultan Demak akhirnya mengirimkan pasukannya yang dipimpin oleh Khatib Dayan.

Sesampainya di Banjarmasih, pasukan Demak pimpinan Khatib Dayan bergabung dengan pasukan dari Banjarmasih untuk melakukan penyerbuan ke Negara Daha di muara sungai Barito.

Sesampainya di daerah yang bernama Sanghiang Gantung, pasukan Bandarmasih dan Pasukan Demak bertemu terlibat pertempuran Pasukan Negara daha.

Pertempuran ini diakhiri dengan sebuah kesepakatan yang isinya adalah duel antara Raden samudera dengan Pangeran Tumenggung. Dalam duel itu, Raden Samudera berhasil mengalahkan pangeran Tumenggung dan itu menandaka kemenangan Banjarmasih.

Setelah kemenangan dalam pertempuran, Raden Samudera lalu memindahkan Rakyat dari Negara Daha ke Banjarmasih dan Raden Samudera diangkat sebagai Kepala negaranya.

Bersatunya penduduk Banjarmasih yang terdiri dari rakyat Negara Daha, Melayu, Dayak dan orang jawa (pasukan dari Demak) menunjukan bersatunya masyarakat Banjarmasih di bawah pemerintahan Raden Samudera.

Para penduduk yang berkumpul di Banjarmasih menyebabkan daerah ini menjadi ramai. Ditambah lokasinya yang terletak pada muara sungai barito dan martapura menjadikan tempat ini sebagai lalu lintas perdangan.

Raden Samudera lalu menjadikan Islam sebagai agama resmi negara dan rakyatnya memeluk agama Islam. Raden Samudra lalu bergelar Sultan Suriansyah yang menjadi raja pertama dari kerajaan Banjar.

Silsilah Raja dari Kerajaan Banjar

1526 – 1545

Pangeran Samudra yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah, Raja pertama yang memeluk Islam

1545 – 1570

Sultan Rahmatullah

1570 – 1595

Sultan Hidayatullah

1595 – 1620

Sultan Mustain Billah, Marhum Penambahan yang dikenal sebagai Pangeran Kecil. Sultan inilah yang memindahkan Keraton Ke Kayutangi, Martapura, karena keraton di Kuin yang hancur diserang Belanda pada Tahun 1612

1620 – 1637

Ratu Agung bin Marhum Penembahan yang bergelar Sultan Inayatullah

1637 – 1642

Ratu Anum bergelar Sultan Saidullah

1642 – 1660

Adipati Halid memegang jabatan sebagai Wali Sultan, karena anak Sultan Saidullah, Amirullah Bagus Kesuma belum dewasa

1660 – 1663

Amirullah Bagus Kesuma memegang kekuasaan hingga 1663, kemudian Pangeran Adipati Anum (Pangeran Suriansyah) merebut kekuasaan dan memindahkan kekuasaan ke Banjarmasin=

1663 – 1679

Pangeran Adipati Anum setelah merebut kekuasaan memindahkan pusat pemerintahan Ke Banjarmasin bergelar Sultan Agung

1679 – 1700

Sultan Tahlilullah berkuasa

1700 – 1734

Sultan Tahmidullah bergelar Sultan Kuning

1734 – 1759

Pangeran Tamjid bin Sultan Agung, yang bergelar Sultan Tamjidillah

1759 – 1761

Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah

1761 – 1801

Pangeran Nata Dilaga sebagai wali putera Sultan Muhammad Aliuddin yang belum dewasa tetapi memegang pemerintahan dan bergelar Sultan Tahmidullah

1801 – 1825

Sultan Suleman Al Mutamidullah bin Sultan Tahmidullah

1825 – 1857

Sultan Adam Al Wasik Billah bin Sultan Suleman

1857 – 1859

Pangeran Tamjidillah

1859 – 1862

Pangeran Antasari yang bergelar Panembahan Amir Oeddin Khalifatul Mu’mina

1862 – 1905

Sultan Muhammad Seman yang merupakan Raja terakhir dari Kerajaan Banjar

Begitulah Sejarah dari Kerajaan Banjar, semoga informasi tadi dapat bermanfaat untuk anda.

Kerajaan Cirebon

kerajaan cirebon - keraton kasepuhan

Kerajaan Cirebon merupakan sebuah kerajaan bercorak Islam ternama yang berasal dari Jawa Barat. Kesultanan Cirebon berdiri pada abad ke-15 dan 16 Masehi. Kesultanan Cirebon juga merupakan pangkalan penting yang menghubungkan jalur perdagangan antar pulau.

Kesultanan Cirebon berlokasi di pantai utara pulau Jawa yang menjadi perbatasan antara wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat, ini membuat Kesultanan Cirebon menjadi pelabuhan sekaligus “jembatan” antara 2 kebudayaan, yaitu budaya Jawa dan Sunda.

Sehingga Kesultanan Cirebon memiliki suatu kebudayaan yang khas tersendiri, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi oleh kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.

Sejarah Kerajaan Cirebon

kerajaan cirebon - keraton kasepuhan 2
Keraton Kasepuhan, via: cirebonarts.com

Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon mulanya adalah sebuah dukuh kecil yang awalnya didirkan oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah perkampungan ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran).

Dinamakan Caruban karena di sana ada percampuran para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, latar belakang dan mata pencaharian yang berbeda. Mereka datang dengan tujuan ingin menetap atau hanya berdagang.

Baca juga:

 

Karena awalnya hampir sebagian besar pekerjaan masyarakat adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan lainnya, seperti menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai yang bisa digunakan untuk pembuatan terasi. Lalu ada juga pembuatan petis dan garam.

Air bekas pembuatan terasi inilah akhirnya tercipta nama “Cirebon” yang berasal dari Cai(air) dan Rebon (udang rebon) yang berkembang menjadi Cirebon yang kita kenal sekarang ini.

Karena memiliki pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon akhirnya menjadi sebuah kota besar yang memiliki salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa.

Pelabuhan sangat berguna dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan seluruh Nusantara maupun dengan negara lainnya. Selain itu, Cirebon juga tumbuh menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

Pendirian dan Silsilah Raja Kerajaan Cirebon

kerajaan cirebon - prabu siliwangi
Prabu Siliwangi, via: sebandung.com

Pangeran Cakrabuana (1430 – 1479) merupakan keturunan dari kerajaan Pajajaran. Ia adalah putera pertama dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dan istri pertamanya yang bernama Subanglarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Raden Walangsungsang(pangeran Cakra Buana) meiliki dua orang saudara kandung, yaitu Nyai Rara Santang dan Raden Kian Santang.

Sebagai anak laki-laki tertua, seharusnya ia berhak atas tahta kerajaan Pajajaran. Namun karena ia memeluk agama Islam yang diturunkan oleh ibunya, posisi sebagai putra mahkota akhirnya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa (anak laki-laki dari prabu Siliwangi dan Istri keduanya yang bernama Nyai Cantring Manikmayang).

Ini dikarenakan pada saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Kerajaan Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha.

Pangeran Walangsungsang akhirnya membuat sebuah pedukuhan di daerah Kebon Pesisir, mendirikan Kuta Kosod (susunan tembok bata merah tanpa spasi) membuat Dalem Agung Pakungwati serta membentuk pemerintahan di Cirebon pada tahun 1430 M.

Dengan demikian, Pangeran Walangsungsang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon.\
Pangeran Walangsungsang, yang telah selesai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman. Ia lalu tampil sebagai “raja” Cirebon pertama yang memerintah kerajaan dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.

Pendirian kesultanan Cirebon memiliki hubungan sangat erat dengan keberadaan Kesultanan Demak.

Semoga Sejarah Kerajaan Cirebon tadi dapat memberikan manfaat bagi teman-teman semua, sekian dan terimakasih.

Kerajaan Demak

kerajaan demak - peta kerajaan

Kerajaan Demak – Kerajaan Demak mulanya merupakan sebuah kadipaten yang berada di bawah kekuasaan dari Kerajaan majapahit. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh, Demak lalu mulai memisahkan diri dari Ibu Kota di Bintoro. Kerajaan Demak merupakan kerajaan islam pertama yang ada di Pulau Jawa.

Kerajaan Demak pertama kali didirikan oleh Raden Patah. Kerajaan demak memiliki lokasi yang sangat strategis karena terletak antara pelabuhan bergota dari kerajaan Mataram Kuno dan Jepara, kedua tempat inilah yang telah membuat Demak menjadi kerajaan dengan pengaruh sangat besar di Nusantara.

Baca juga:

 

Kerajaan Demak didirikan oleh raden Patah asal yang masih keturunan dari Majapahit dengan seorang putri dari Campa.
Daerah kekuasaan dari Kerajaan Demak mencakup Banjar, Palembang dan Maluku serta bagian utara pada pantai Pulau Jawa.

Kehidupan Politik Kerajaan Demak

kerajaan demak - raja demak
Sunan Ampel. via: blogspot.com

Raja pertama dari Kerajaan Demak ialah Raden Patah yang bergelar Senapati Jumbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.

Pada tahun 1507, Raden Patah turun tahta dan digantikan oleh seorang putranya yang bernama Pati Unus. Sebelum diangkat menjadi Raja, Pati Unus sebelumnya sudah pernah memimpin armada laut kerajaan Demak untuk menyerang Portugis yang berada di Selat Malaka.

Sayangnya, usaha Pati Unus tersebut masih mengalami kegagalan. Namun karena keberaniannya dalam menyerang Portugis yang ada di Malaka tersebut, akhirnya Pati unus mendapat julukan sebagai Pangeran Sabrang Lor.

Lalu pada tahun 1521, Pati Unus wafat dan tahtanya digantikan oleh adiknya yang bernama Trenggana. Pada masa inilah kerajaan Demak mencapai pusak kejayaannya.

Sejarah Kerajaan Demak

kerajaan demak - raja kerajaan demak
via: slidesharecdn.com

Setelah berkuasa, lalu Sultan Trenggana mulai melanjutkan upaya dalam menahan pengaruh dari Portugis yang sedang berusaha untuk mengikat kerjasama bersama kerajaan Sunda atau Pajajaran.

Kala itu, Raja Samiam yang berasal dari kerajaan Sunda sudah memberikan izin untuk mendirikan kantor dagangnya di Sunda Kelapa. Oleh karena itu, Sultan Trenggana akhirnya mengutus Fatahillah atau Faletehan untuk bisa mencegah supaya Portugis tidak dapat menguasai wilayah Sunda Kelapa dan Banten.

Sunda Kelapa merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda. Pada waktu itu, Portugis membangun benteng yang ada di Sunda Kelapa. Namun, kerajaan Demak tak senang dengan adanya keberadaan orang-orang Portugis tersebut.

Akhirnya, Fatahillah lalu berhasil dalam mengalahkan Portugis. Banten dan Cirebon akhirnya dapat dikuasai oleh Fatahillah bersama pasukannya.

Karena jasanya ini, untuk mengenang kemenangan tersebut maka Sunda Kelapa lalu diganti namanya menjadi Jayakarta pada tanggal 22 Juni 1527. Kejadian itu membuat Sultan Trenggana menjadi Raja terbesar yang ada di Demak.

Pasukan Demak mulai terus bergerak menaklukan pedalaman dan berhasil dalam menundukkan sebagian wilayah yang berada di Timur.

Daerah-daerah yang masih memiliki kerajaan Hindu dan Buddha yang berada di Jawa Timur lalu satu persatu dikalahkan yakni Wirosari dan Tuban pada tahun 1528, Madiun pada tahun 1529, Lamongan, Blitar, Pasuruan dan Wirosobo pada tahun 1541 sampai dengan 1542.

Mataram, Madura dan Pajang pun akhirnya jatuh kedalam kekuasaan kerajaan Demak. Demi dapat memperkuat kedudukannya maka Sultan Trenggana mengawinkan putrinya dengan Pangeran Langgar yang menjabat Bupati Madura.

Selanjutnya, Putra Bupati Pengging yang bernama Tingkir juga diambil menjadi menantu Sultan Trenggana dan ia diangkat menjadi Bupati di Pajang.

Pada tahun 1546, Sultan Trenggana menemui ajalnya di medan pertempuran ketika melancarkan penyerangan di Pasuruan. Sejak Sultan Trenggana wafat, Kerajaan Demak dilanda persengketaan dalam memperebutkan kekuasaan yang berada di kalangan keluarga kerajaan.

Pengganti Sultan Trenggana seharusnya ialah Pangeran Mukmin atau Pangeran Prawoto selaku putra tertua dari Sultan Trenggana , namun kemudian Pangeran Prawoto dibunuh oleh Bupati Jipang yaitu Arya Penangsang.

Kemudian, tahta kerajaan Demak akhirnya diduduki oleh Arya Penangsang. Namun keluarga kerajaan ternyata tidak menyetujui atas naik tahtanya Arya Penangsang menjadi Raja. Lalu akhirnya Arya penangsang berhasil dikalahkan oleh kerajaan Demak berkat bantuan dari Jaka Tingkir. Sejak saat itu wilayah kerajaan Demak dipindahkan ke Pajang.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Demak

kerajaan demak - potren zaman dulu
via: blogspot.com

Kerajaan Demak telah menjadi salah satu pelabuhan terbesar yang ada di Nusantara, Demak memegang peran yang sangat penting dalam aktivitas perekonomian antarpulau.

Demak memiliki peran yang penting karena memiliki daerah pertanian yang lumayan luas dan menjadi penghasil bahan makanan seperti beras. Selain itu, perdagangannya juga semakin meningkat. Barang yang banyak diekspor yaitu Lilin, Madu dan Beras.

Barang-barang tersebut lalu diekspor ke Malaka melalui Pelabuhan Jepara. Aktivitas perdagangan Maritim tersebut telah menyebabkan kerajaan demak mendapat keuntungan sangat besar. Banyak kapal yang melewati kawasan laut jawa dalam memasarkan barang dagangan tersebut.

Kehidupan Sosial dan Budaya

kerajaan demak - masjid agung megah
via: satujam.com

Dalam kehidupan sosial dan budaya, rakyat kerajaan Demak sudah hidup dengan teratur. Roda kehidupan budaya dan sosial masyarakat Kerajaan Demak sudah diatur dengan hukum Islam sebab pada dasarnya Demak ialah tempat berkumpulnya para Wali Sanga yang menyebarkan islam di pulau Jawa.

Adapun sisa peradaban dari kerajaan Demak yang berhubungan dengan Islam dan sampai saat ini masih dapat kita lihat ialah Masjid Agung Demak. Masjid tersebut merupakan lambang kebesaran kerajaan Demak yang menjadi kerajaan Islam Indonesia di masa lalu.

Selain memiliki banyak ukiran islam (kaligrafi), Masjid Agung Demak juga memiliki keistimewan, yaitu salah satu tiangnya terbuat dari sisa sisa kayu bekas pembangunan masjid yang disatukan.

Selain Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga adalah yang mempelopori dasar-dasar perayaan Sekaten yang ada dimasa Kerajaan Demak. Perayaan tersebut diadakan oleh Sunan Kalijaga dalam untuk menarik minat masyarakat agar tertarik untuk memeluk Islam.

Perayaan Sekaten tersebut lalu menjadi sebuah tradisi atau kebudayaan terus menerus dipelihara sampai saat ini, terutama yang berada didaerah Cirebon, Yogyakarta dan Surakarta.

Kerajaan Mataram Islam

kerajaan mataram islam - bendera

Kerajaan Mataram Islam adalah sebuah Kerajaan Islam yang berdiri di Pulau Jawa pada abad ke 16. Kerajaan ini dipimpin oleh suatu dinasti yang mengaku sebagai keturunan dari Majapahit, yaitu keturununan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan.

Sepanjang sejarahnya, Kerajaan Mataram pernah memiliki 3 ibu kota yaitu:

  • Kota Gede (1588-1613)
  • Karta (1613-1647)
  • Pleret (1647-1681)

Pada masa keemasannya Kerajaan Mataram pernah menguasai seluruh tanah Jawa dan sekitarnya kecuali Batavia yang pada saat itu dikuasai oleh VOC.

Baca juga:

Kerajaan ini juga pernah memerangi VOC untuk merebut Batavia, namun sayangnya peperangan ini mengalami kegagalan karena kapal kerajaan Mataram berhasil ditenggelamkan.

Kerajaan Mataram merupakan kerajaan berbasis pertanian yang lemah secara maritim.

Sejarah Kerajaan Mataram

kerajaan mataram islam - wilayah kekuasaan
via: markijar.com

Awal berdirinya Kerajaan Mataram bermula dari keberhasilan Sutawijaya dalam mengalahkan Aria Penangsang asal Jipang dalam sebuah peperangan.

Atas keberhasilannya, Sutawijaya kemudian mendapatkan Hutan Mentaok sebagai hadiah oleh Sultan Hadi WIjaya. Awalnya Hutan Mentaok dipimpin oleh ayah Sutawijaya yang bernama Ki Ageng Pemanahan.

Setelah ayahnya meninggal, maka hutan Mentaok jatuh ke tangan Sutawijaya. Dalam mencapai tujuannya untuk menaklukan seluruh Jawa, Sutawijaya dibantu oleh pamannya yang bernama Ki Juru Martani.

Silsilah Kerajaan Mataram

Kerajaan Mataram sempat dimpin oleh 6 orang raja, siapa sajakah itu? Berikut daftarnya:

    1. Ki Ageng Pamanahan

 

kerajaan mataram islam - ki ageng pamanahan

via: snipview.com

Ki Ageng Pamanahan merupakan pendiri dari desa Mataram pada tahun 1556. Desa inilah yang nantinya akan menjadi Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh anaknya, Sutawijaya.

Tanah ini awalnya hutan lebat yang lalu dibuka oleh masyarakat sekitar dan diberi nama Alas Mentaok. Lalu Ki Ageng Pamanahan menjadikan bekas hutan ini sebagai sebuah desa yang diberinama Mataram.

Ki Ageng Pamanahan wafat pada tahun 1584 dan dimakankan di Kota Gede (Jogjakarta sekarang).

    1. Panembahan Senapati

 

kerajaan mataram islam - panembahan senapati

via: staticflikr.com

Setelah ki Ageng wafat pada tahun 1584, kekuasaan jatuh ke tangan anaknya yaitu Sutawijaya. Ia adalah menantu dan anak angkat dari Sultan Pajang.

Sutawijaya tadinya merupakan senapati dari kerajaan Pajang. Karena itu ia diberi gelar “Panembahan Senapati” karena masih dianggap sebagai senapati utama Pajang dibawah Sultan Pajang.

Kerajaan Mataram Islam mulai bangkit dibawah kepemimpinan Panembahan Senapati. Kerajaan ini lalu memperluas wilayah kekuasaannya dari Pajang, Demak, Tuban, Madiun, Pasuruan dan sebagian besar wilayah Surabaya.

Panempahan Senapati wafat pada tahun 1523, lalu posisinya digantikan oleh anaknya yang bernama Raden Mas Jolang.

    1. Raden Mas Jolang

 

kerajaan mataram islam - raden mas jolang

via: slidesharecdn.com

Raden Mas Jolang atau Panembahan Anyakrawati merupakan putra dari Panembahan Senapati dan putri Ki Ageng Panjawi, penguasa Pati.

Raden Mas Jolang Merupakan pewaris kedua dari kerajaan Mataram Islam. Beliau memerintah dari tahun 1606 – 1613 atau selama 12 tahun.

Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi peperangan. Peperangan karena penaklukan wilayah ataupun karena mempertahankan wilayah.

Raden Mas Jolang wafat pada tahun 1613 di desa Krapyak. dimakamkan di makam Pasar gede di bawah makan ayahnya.

    1. Raden Mas Rangsang

 

kerajaan mataram islam - raden mas agung

via: sejahtraku.blogspot.com

Raden Mas Rangsang adalah raja ke 3 Kerajaan Mataram Islam dan merupakan putra dari Raden Mas Jolang. Ia memerintah pada tahun 1613 – 1645. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaannya.

Raden Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Ngabdurrachman. Pada masa ini, Kerajaan Mataram berhasil menguasai hampir seluruh Tanah Jawa seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat.

Selain melakukan penaklukan wilayah dengan berperang melawan raja Jawa. Sultan Agung juga memerangi VOC yang ingin merebut Jawa dan Batavia.

Pada masa Sultan Ageng, Kerajaan Mataram berkembang menjadi Kerajaan Agraris. Sultan Ageng wafat pada tahun 1645 dan di makanmkan di Imogiri.

    1. Amangkurat I

 

kerajaan mataram islam - amangkurat 1

via: dewimutiaraintanberlianpakidulan.blogspot.com

Sultan Amangkurat merupakan anak dari Sultan Ageng. Ketika berkuasa, ia memindahkan pusat kerajinan dari kota Gedhe ke kraton Plered pada tahun 1647.

Sultan Amangkurat berkuasa dari tahun 1638 sampai tahun 1647. Pada masa inilah Kerajaan Mataram Islam terpecah. Ini dikarenakan sultan Amangkurat I menjadi teman dari VOC.

Sultan Amangkurat I meninggal pada tanggal 10 Juli 1677 dan dimakankan di Telagawangi, Tegal. Sebelum meninggal, ia sempat menangkat Sunan Mataram atua Amangkurat II sebagai penerusnya.

    1. Amangkurat II

 

kerajaan mataram islam - raden mas rahmat

via: wikimedia.org

Amangkurat II atau Raden Mas Rahmat merupakan pendiri dan raja pertama dari Kasunanan Kartasura. Kasunanan Kartasura merupakan lanjutan dari Kerajaan Mataram Islam.

Raden Mas Rahmat memerintah dari tahun 1677 sampai tahun 1703. Beliau merupakan raja Jawa pertama yang menggunakan pakaian eropa sebagai pakaian dinas. Karena itu rakyat menjulukinya Sunan Amral (Admiral).

Demikian Informasi yang dapat saya berikan tetang Kerajaan Mataram Islam. Semoga Informasi ini bermanfaat bagi Anda sekalian. Sekian dan Terimakasih.

Sejarah Kerajaan Ottoman

sejarah kerajaan ottoman - bendera

Sejarah Kerajaan Ottoman – Kerajaan Ottoman atau Turki Utsmaniyah adalah sebuah kerajaan yang lahir pada tahun 1453 setelah Mehmed II berhasil menaklukan Konstantinopel. Pada masa ini pasukan kerajaan yang bernama Janissary sangat ditakuti oleh dunia.

Pasukan ini terkenal karena berhasil menaklukan Konstantinopel yang pada masa itu terkenal tak bisa ditembus. Kerajaan Ottoman mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sulaiman al-Qonuni bin Salim atau terkenal dengan nama Suleiman the Magnificent (Suleiman yang Agung).

Pemerintahan Sultan Suleiman berlangsung selama 48 tahun yaitu dari tahun 926 H sampai 974 H, dengan demikian beliau merupakan sultan terlama yang pernah memimpin Kesultanan Turki.
Kerajaan Turki menerapkan syari’at islam dalam pemerintahannya, karena itu dikenal juga sebagai Kesultanan Turki atau Kekhalifahan Turki.

Sulaiman Al Qanuni

sejarah kerajaan ottoman - suleiman al qanuni
via: guim.co.uk

Dalam masa pemerintahannya, Sultan Suleiman berhasil menjadikan Turki sebagai negara yang sangat kuat dan berkuasa. Ini terbukti dari luasnya wilayah kekuasaan Turki pada saat itu.

Kekuasaan Turki pada masa itu melebar sampai negeri tetangga seperti Mesir, Iraq, Syiria dan Palestina. Tidak heran jika ia menjadi salah satu penguasa paling berpengaruh di dunia. Kata-katanya di dengar oleh seluruh penjuru negeri dan kerajaan lainnya.

sejarah kerajaan ottoman - masjid suleiman al qanuni
Masjid Suleiman Al Qanuni via: medium.com

Kesultanan Turki juga memegang teguh pada syariat islam. Manajemen dan perundang-undangan negara begitu modern tanpa sedikitpun menyelisihi syariat islam yang memang dipegang teguh oleh keluarga Utsmani di setiap wilayah kekuasaan mereka.

Pada masa ini Ilmu pengetahuan, Sastra, Arsitektur dan pembangunan berkembang dengan begitu pesatnya.

Masa Pertumbuhan dan Awal Pemerintahan Turki

sejarah kerajaan ottoman - arsitektur
via: travelwithopus.com

Sultan Sulaiman dilahirkan di Kota Trabzon pada tahun 900 H bertepatan dengan 1495 M. Ayah Sultan Suleiman adalah Sultan Salim I dan ibunya bernama Hafshah. Saat Sultan Suleiman dilahirkan ayahnya adalah tamir dari daerah Trabzon.

Sultan Salim I memiliki perhatian khusus pada Suleiman, ia mengajarkan anaknya itu ilmu, sastra. Ia juga mengajarkan anaknya untuk mencintai ulama, ahli fiqih dan sastrawan. Ketika kecil, Suleiman dikenal sebagai seorang yang tekun dan memiliki kesungguhan.

Ketika Sultan Salim meninggal pada 22 September 1529 M, anaknya Sultan Suleiman lalu diangkat menjadi raja yang baru. Saat itulah secara langsung ia turun dalam memerintah negara. Pada awal pelantikannya, Sultan Suleiman membuka khotbahnya dengan ayat berikut:

Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Naml: 30).

Sultan Suleiman merupakan Sultan yang sangat bertanggung jawab sebagai kepala negara. Ia memperluas pengaruh dan wilayah kerajaan, serta menertibkan wilayah yang ingin melepaskan diri dari otoritas Turki.

Para musuhnya mengira karena usia yang masih muda (26 tahun), maka kesempatan untuk memberontak akhirnya muncul. Namun mereka salah besar, sultan Suleiman memliki kekuatan dan kematangan dalam memimpin sehingga rencana pemberontakan (melepaskan diri) pun gagal.

Beberapa prestasi Sultan Suleiman yaitu berhasil menghentikan pemberontakan Janbirdi al-Ghazali di Syam, Ahmad Basya di Mesir, dan seorang Syiah yang bernama Qulandar Jalabi di daerah Konya dan Kahramanmaraş.

Jihad Mengusir Penjajah Eropa dari Timur Tengah

sejarah kerajaan ottoman - wilayah kekuasaan
Wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turiki via: squarespace.com

Pada masa pemerintahan Sultan Suleiman, terjadi beberapa kali peperangan untuk meluaskan wilayah kerajaan Utsmani. Peperangan itu berhasil meluaskan wilayah kerajaan sampai Eropa, Asia dan Afrika.

Pada tahun 1521 M, Kekhalifahan Utsmani telah berhasil menguasai Belgrade (ibu kota serbia). Tahun 1529 M pasukan Utsmani mengepung kota Vienna (ibu kota Austria), namun pengepungan ini gagal.

Pada kesempatan berikutnya, pasukan Utsmani mencoba menaklukan Vienna kembali, namun hasilnya tetaplah gagal. Ibu kota Hungaria, Budapest jatuh ketangan Utsmani dan menjadi salah satu propinsinya.

Peperangan dengan syiah terjadi 3 kali pada masa pemerintahan sultan Suleiman. Peperangan ini dilakukan di Asia dan terjadi pada tahun 1534 M yang menyebabkan Irak menjadi bagian dari Utsmaniah.

Wilayah Iran (Tabriz) juga menjadi bagian dari Utsmaniah pada tahun 1548 M. Sultan Suleiman berhasil memaksa Shah Tahmasp I (Raja Iran) untuk membuat perjanjian dan memberikan kuasa penuh atas Arywan, Tabriz dan Anatolia pada tahun 1555 M.

Pada masa ini, sebagian besar Tunisia, Eritria, Jibouti dan Shomalia di Benua Afrika menjadi bagian dari wilayah Turki Utsmani.

Semoga Kehebatan Kekhalifahan Utsmani bisa Ditiru Oleh Bangsa Indonesia.

Sejarah Kerajaan Majapahit

sejarah kerajaan majapahit - trowulan

Sejarah Kerajaan Majapahit – Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah berdiri di bumi pertiwi Indonesia tercinta ini. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 1293 hingga 1500 Masehi. Pada puncak kejayaannya, kerajaan Majapahit telah berhasil menguasai seluruh Nusantara ditambah beberapa negara tetangga. Ini terjadi pada masa kekuasaan Hayam Wuruk yang berkuasa pada tahun 1350 – 1389 Masehi.

Kerajaan Majapahit juga merupakan kerajaan Hindu – Budha terakhir yang menguasai nusantara. Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan sampai Wilayah Indonesia Timur.

Sejarah Kerajaan Majapahit

sejarah kerajaan majapahit - peta
Peta wilayah Majapahit via: wikipedia

Awal berdirinya Kerajaan Majapahit yaitu ketika adanya serangan dari Adipati Kediri yang bernama Jayakatwang ke Kerajaan Singasari. Serangan dari Jayakatwang berhasil membunuh penguasa Singasari kala itu yang bernama Kertanegara. Penyerangan ini dilatarbelakangi penolakan pembayaran upeti oleh Kertanegara.

Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Kertanegara berhasil lolos dan melarikan diri ke Madura untuk meminta perlindungan kepada penguasa Madura kala itu yaitu Aryawiraraja. Lalu Raden Wijaya diberikan sebuah hutan bernama hutan tarik. Hutan tersebut tumbuh pohon maja, buah dari maja itu rasanya pahit, makanya ketika hutan tersebut dijadikan desa, desa tersebut dinamakan Majapahit.

Pada waktu itu terdapat pasukan Mongolia pimpinan Shih-Pi, Ike-Mise dan Kau Hsing. Kedatangan pasukan Mongolia ini bertujuan untuk menghukum Kertanegara karena tidak membayar upeti. Bisa dibayangkan berapa pihak yang dibuat marah oleh Kertanegara karena tidak membayar upeti?

Situasi ini lalu dimanfaatkan oleh Raden Wijaya. Melalui kecerdikannya Raden Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk menggulingkan kekuasaan Jayakatwang di Singasari. Koalisi Raden Wijaya beserta pasukan Mongol berhasil membunuh Jayakatwang.

Pasukan Mongol merayakan kemenangan dengan berpesta pora. Raden Wijaya yang melihat kesempatan ini tidak tinggal diam, ia lalu menyerang tentara Mongol yang sedang asik berpesta dan akhirnya berhasil mengusir mereka dari tanah Jawa.

Pada akhirnya Raden Wijaya naik tahta menjadi Raja dan bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana pada tahun 1293.
Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada saat Hayam Wuruk berkuasa pada tahun 1350 – 1389 Masehi. Pada saat itu, wilayah kekuasaan Majapahit meliputi seluruh nusantara beserta negara tetangga disampingnya.

Namun ada satu wilayah yang tidak tunduk kepada kerajaan Majapahit yaitu kerajaan Sunda dengan raja bernama Sri Baduga Maharaja. Sri Baduga Maharaja memiliki seorang putri cantik jelita yang bernama Diah Pitaloka, kecantikan Diah Pitaloka memikat hati Hayam Wuruk.

sejarah kerajaan majapahit - gajah mada
Mahapatih Gajah Mada via: portalsejarah.com

Hayam Wuruk bermaksud menjadikan Diah Pitaloka sebagai permaisurinya, namun patih Gajah Mada tidak setuju. Patih Gajah Mada ingin Sri Baduga memberikan putrinya sebagai upeti tanda takluk pada Majapahit. Lalu terjadilah kesalah pahaman yang menimbulkan peperangan antara kerajaan Sunda dan Majapahit. Peperangan itu berhasil dimenangkan oleh Majapahit dan Sri Baduga gugur dalam peperangan. Melihat ayahnya gugur, putri Diah Pitaloka akhirnya bunuh diri.

Silsilah Kerajaan Majapahit

sejarah kerajaan majapahit - silsilah kerajaan majapahit
via: majapahit1478.blogspot.com

Kertajasa Jawardhana (1293 – 1309)

Kertajasa Jawardhana merupakan gelar dari Raden Wijaya. Ia merupakan pendiri kerajaan Majapahit setelah berhasil mengusir pasukan Mongol dari Singasari. Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit dibantu oleh Aryawiraraja. Karena besar jasanya,ia diberikan wilayah sebelah timur meliputi daerah Lumajang dan Blambangan oleh Raden Wijaya.
Raden Wijaya menerapkan susunan pemerintahan seperti Kerajaan Singasari, ia memerintah dengan sangat adil dan bijaksana.

Raja Jayanegara (1309 – 1328)

Ketika Gemet naik tahta untuk menggantikan ayahnya dengan gelar Sri Jayanegara. Pada masa itu ada banyak pemberontakan, diantaranya adalah:

  1. Pemberontakan Ranggalawe (1231 saka)
  2. Pemberontakan Lembu Sora (1233 saka)
  3. Pemberontakan Juru Demung (1235 saka)
  4. Pemberontakan Gajah Biru (1236 saka)
  5. Pemberontakan Nambi
  6. Pemberontakan Lasem
  7. Pemberontakan Semi
  8. Pemberontakan Kuti
  9. Peristiwa Bandaderga

Diantara semua pemberontakan itu, yang paling berbahaya adalah pemberontakan Kunti. Pemberontakan itu hampir meruntuhkan kerajaan Majapahit. Untungnya pemberontakan itu berhasil diatasi.
Raja Jayanegara sendiri mati ditangan tabibnya sendiri yang bernama Tanca. Tanca pada akhirnya mati di tangan Gajah Mada.

Tribuwana Tunggadewi (1328 – 1350)

Raja Jayanegara tidak memiliki seorang putra, karena itu pewaris tahta harusnya jatuh ke tangan putrinya yang bernama Gayatri. Namun karena Gayatri memilih untuk menjadi biksu, maka tahta jatuh ke tangan putrinya yang bernama Bhre Kahuripan dengan gelar Tribuwana Tunggadewi.

Tribuwana Tunggadewi memerintah dengan bantuan suaminya yang bernama Kartawardhana. Pada tahun 1331 muncul pemberontakan dari daerah Keta (Besuki) dan Sadeng. Untungnya pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh patih Gajah Mada yang pada saat itu menjabat sebagai patih Daha.

Karena jasanya yang besar, maka Gajah Mada lalu diangkat menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit menggantikan Pu Naga. Gajah Mada lalu menunjukan kesetiaannya dengan bersumpah untuk menaklukan seluruh nusantara, sebelum sumpah itu tercapai, ia tidak akan memakan buah palapa.

Sumpah ini lalu dikenal dengan nama Sumpah Palapa yang berbunyi :”Lamun luwas kalah nusantara isum amakti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Sunda, ring Palembang, ring Tumasik, samana sun amukti palapa”. Setelah bersumpah, lalu Patih Gajah Mada melakukan banyak penaklukan ke seluruh negeri.

Hayam Wuruk

Hayam Wuruk naik tahta pada usia sangat muda yaitu ketika berumur 16 tahun. Ia bergelar Rajasenagara, di masa pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai puncak kejayaannya.
Daerah kekuasaan Majapahit meliputi seluruh Nusantara bahkan pengaruhnya tersebar sampai negara tetangga. Namun ada satu kerajaan yang menolak tunduk pada Majapahit, kerajaan itu adalah kerajaan Sunda pimpinan Sri Baduga Maharaja.

Pada tahun 1364 Mahapatih Gajah Mada meninggal dunia, ini merupakan kehilangan yang besar bagi kerajaan Majapahit. Memilih pengganti gajah mada bukanlah perkara mudah. Karena tidak menemukan pengganti yang sesuai, akhirnya posisi Gajah Mada diisi oleh 3 orang, yaitu Mpu Tandi sebagai Wridhamantir, Mpu Nala sebaga menteri Amancanegara dan patih Dami sebagai Yuamentri. Raja Hayam Wuruk sendiri akhirnya meninggal pada tahun 1389.

Begitulah sejarah lengkap kerajaan Majapahit yang pernah menjadi kerajaan terbesar di Nusantara, semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi teman-teman semua.