Mall paling berkesan di Depok

Depok adalah sebuah kota kecil disebelah jakarta. zaman dulu, kota ini dikenal sebagai tempat jin buang anak. tentu saja itu bukan makna sebenarnya, disebut demikian karena depok pada waktu itu masih berupa daerah sepi yang jarang ditinggali. namun sekarang, kota ini sudah termasuk sebagai kota maju di provinsi jawabarat, bahkan kota Depok termasuk sebagai deretan kota utama yang lokasinya saling berdampingan yaitu Jabodetabek. Deretan kota utama ini dihubungkan oleh jalur kereta commuter line. tarif yang murah dan waktu perjalanan yang relatif cepat membuat commuter line atau biasa disebut CL menjadi primadona transportasi disini. kendalanya hanyalah kepadatan penumpang yang menyesakkan pada saat jam pulang pergi kantor.

 

Belimbing

Belimbing

Belimbing adalah salah satu buah eksotis yang berasal dari negara dengan iklim tropis. Buahnya berbentuk seperti bintang dan berwarna kekuningan jika sudah matang. Buah belimbing digemari karena rasanya yang sangat menyegarkan, tidak hanya itu, buah Belimbing ternyata juga memiliki manfaat bagi kesehatan dan kecantikan, sampai-sampai buah Belimbing dijadikan Ikon di kota Depok. walaupun saya sendiri merasa tidak pernah melihat pohon belimbing selama tinggal di Depok.

Depok masa kini

Depok masa kini

Lain dulu lain sekarang, mungkin kalimat itu cocok untuk menggambarkan kondisi kota Depok saat ini. kota yang dulunya dikenal sebagai tempat jin buang anak sekarang telah menjadi kota maju dengan banyaknya apartment, mall dan perumahan yang bertebaran. Keramaian kota Depok berpusat pada jalan margonda, jalan margonda adalah jalan spanjang 5 km yang bermula dari perbatasan kota Depok yang ditandai dengan tugu selamat datang sampai dengan 2 lampu merah setelahnya. Nama margonda sendiri diambil dari nama salah seorang pejuang kemerdekaan berpangkat letnan muda yang syahid ketika menyerang tentara inggris di Kalibata.

31203354

Plaza Depok atau lebih dikenal dengan Ramayana, adalah Salah satu dari sekian banyak pusat perbelanjaan yang terletak di pinggiran jalan margonda Depok. Ramayana adalah department store yang bergerak dibidang fashion dengan segmentasi pasar untuk kalangan berpenghasilan menengah kebawah. singkatnya, Ramayana adalah toko yang menjual pakaian berkualitas namun dengan harga relatif murah.

Ketika memasuki usia TK (taman kanak-kanak), saya tinggal di kampung manggah. Kampung manggah adalah sebuah perkampungan yang terletak di pinggir jalan margonda. Lokasinya kira-kira sekitar 200m atau sekitar 5 menit berjalan kaki dari Ramayana. Pada waktu itu, hanya ada 2 pusat perbelanjaan di kota Depok, yaitu Ramayana dan Mall Depok. Ramayana memiliki kisah tersendiri dengan saya, kisah yang masih saya ingat sampai sekarang.

Kisah ini bermula ketika saya dan adik saya menemani umi berbelanja pakaian di Ramayana. Waktu itu usia saya sekitar 5 tahun dan adik saya sekitar 3 tahun. Waktu itu saya sekolah TK di Depok 1, sekitar 15 menit perjalanan jika menggunakan angkot (angkutan umum) dari rumah. Biasanya yang menjemput saya sepulang sekolah adalah pembantu yang dibawa langsung dari lampung oleh mbah, namun kali ini sedikit berbeda, yang menjemput saya adalah umi. Ketika menjemput saya, umi tidak sendirian namun ditemani oleh adik saya yang bernama ocat.

Biasanya, sehabis sekolah saya langsung pulang kerumah, namun tidak pada hari itu. Umi mengajak kami untuk berbelanja pakaian di Ramayana. Dengan menaiki angkot selama 15 menit, kamipun sampai persis didepan Ramayana. Sesampainya disana, kami langsung menaiki escalator menuju lantai 3 yaitu ke tempat pakaian wanita dan anak.

Sesampainya disana, umi memilih pakaian untuk kami sekeluarga, sementara saya dan adik saya asyik melihat mainan. Strategi marketing yang diterapkan di Ramayana tergolong bagus. Mereka meletakkan stand mainan pada bagian baju anak, hal itu tentu dapat membuat para ortu merogoh kocek lebih untuk memuaskan keinginan buah hati mereka. Namun sayangnya, strategi marketing yang handal tidak dibarengi dengan pengawasan yang memadai. Sudah hal yang lumrah jika anak kecil mudah tertarik oleh mainan, dengan meletakkan stand mainan ditempat pakaian anak itu berarti sama saja dengan mengalihkan pandangan ortu pada anaknya. ketika ortu sedang memilih pakaian, anak-anaknya berlarian ketempat mainan. disitulah awal mula kisah saya dengan Ramayana yang masih saya kenang hingga sekarang. Ketika sampai dilantai 3, hal yang pertama kali saya lihat adalah mainan. Saya lalu minta izin sama umi untuk melihat koleksi mainan yang ada disana.

Dengan penuh antusias, saya dan adik langsung berlari menuju stand mainan, sesampainya disana yang kami lakukan hanyalah melihat-lihat setumpuk mainan yang ada. Mainan yang saya liat adalah mainan robot dari salah satu serial televisi yang tayang tahun 90-an. Saking asyiknya melihat mainan, kami sampai lupa waktu. Ketika kami kembali, ternyata umi sudah tidak ada ditempat semula. Kami pun akhirnya berkeliling dilantai 3 terutama ditempat pakaian. Pakaian diletakkan di bak-bak besar atau digantungan yang lebih tinggi dari badan kami pada waktu itu. Setelah sekian lama mencari, kami tetap tidak menemukan umi. Kami yang panik akhirnya mulai berteriak memanggil umi sambil menangis sesenggukan, “umiii umiii umiii” kata-kata itulah yang keluar dari mulut kami yang basah kena air mata dan ingus karena menangis.

Karena tidak menemukan umi dilantai 3, kamipun turun menggunakan eskalator kelantai 2. Sepanjang jalan, kami tetap menangis sambil berteriak “umii umii umii”, sampai akhirnya kamipun ditemukan oleh satpam. Satpam yang menemukan kami, langsung menggandeng tangan saya dan menggendong ocat. Lucunya, tangisan saya malah semakin kencang, bukan karena takut pada satpam, melainkan karena saya merasa iri dengan adik saya. Kenapa ocat digendong sementara saya tidak? begitulah yang ada dipikiran saya kala itu. Kami dituntun menuju pusat informasi, sesampainya disana kami diterima oleh seorang wanita – sebut saja mawar. Mba mawar ini kemudian berbicara didepan mic, isi pembicaraannya kurang lebih “telah ditemukan 2 anak hilang, dengan ciri-ciri sebagai berikut….” , lalu mba mawar bertanya kepada kami sambil menyodorkan mic yang dia pegang, ‘namanya siapa dek?’ tanyanya. Karena menangis, suara kami pun tidak jelas, yang terdengar dari Speaker pada sudut-sudut bangunan hanyalah tangisan kami. Untungnya, karena merasa kehilangan, umi juga sedang berjalan ke arah pusat informasi. Akhirnya terjadilah pertemuan yang sangat mengharukan diantara kami, saya lalu bertanya sambil tetap menangis ‘umi tadi kemana? kok olis cari-cari ga ada?’, umi pun menjawab “umi tadi lagi bayar baju sayang”.

begitulah sepenggal kisah mengharukan yang terjadi ketika kami berbelanja di Ramayana. Pelajaran buat para ortu, jangan biarkan putra putri anda yang masih kecil untuk berkeliaran tanpa pengawasan anda di mall.

Leave a Reply